S.A.U.N.G

Brombil.com – Suatu malam, aku melihat lelaki itu tengah hanyut menikmati sebuah buku “The Messianic Legacy” di bawah bumbung periuk petir membahana. Dan sebuah buku “Dari Akidah ke Revolusi” karya Hassan Hanafi turut serta mengantri setelah sub-sub buah karya Michael Baigent, Ricahrd Leigh, dan Henry Lincoln, usai di lahap secara sempurna.

Griya artistik di ujung pura tempat ia singgah, terdapat perpustakaan alit menjirus ruang tamu ke sepetak jenjang persegi panjang menyerupai kastil desain klasik berpadu keharmonisan kayu-kayu pagon, membaur sky blue cat tembok mengapit debar-debar pigura mempersolek larik-larik tatanan buku ala Fantouvele, satu vas bunga cantik dan seikat mawar merah memblokade sudut antar meja, kursi dan almari, yang mampu membius status reader manapun permanen parno, kulit seketika memucat kesan termanjakan jendela dunia pada satu titik dimana ia berdiri.

Ia, yang notabene adalah seorang seniman surealis penggemar metafisika, budayawan nyentrik, sekaligus ayah hebat dipenuhi ilham-ilham cemerlang, selalu di buat hungry ketika gempita sorot matanya menyerkap segala buku dengan berbagai segala tema. Layaknya seorang pelawat Mailings Restaurant mensabotase bedil pekatu, dengan lahap ia akan memamah kudapan tanpa meninggalkan keseimbangan. Meski terkadang obsolet kerap mengaung hendak mencekik gairah hidup, lantas tidak menjadi penghalang untuk konstan melanjutkan kemuliaan (membaca) yang sudah ia ritualkan semenjak sang isteri belum terlahir. Bahkan, kemuliaanya kini kian berserang rambak, vitalitasnya mengaret ganda, keuletanya menanjak biak, makin berimbun memulut IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) baik dalam insektologi, arkeologi, astronomi, aeronautika, kimia, farmakologi, sintaksis, politik, psikiatri, demografi, pedagogi, psikologi, aritmetika, zoologi, biologi, eksakta, klimatologi, ekonomi, astrologi, filsafat, dlsbg.

Kira-kira seperti itulah eksplisit visualisasi kecintaan, ketulusan, kesetiaan, kekaguman, kegemaran lelaki itu terhadap buku-buku rasionalitas, tak terkecuali kepada sang isteri tercintanya.

TERPUKAU, TERAMAT SANGAT MEMUKAU!!!

Tiada perbandingan yang pantas untuk di sejajarkan apalagi di anggap sama rata dalam hal ini. Ia seolah adalah jiwa matahari yang tak pernah ayun-temayun.  Bertengger aneka arombai mendulang tinggi, menjadikan keberadaanya tak tersentuh se-centimeter pun, tubuhnya tidak pernah di temukan meski serdadu terus memburu, membidik hingga blantika dunia imajinasi.

Hanya ada lagu, musik, sastra, sufi, tasawuf, metafisika, serta segala hal yang berbau kiri dan selatan-lah yang mampu membangunkan alam bawah sadarnya sebagai identitas penyempurnaan akal manusia.

Maka tak heran, jika ia kerap dianggap fiksi oleh sebagian ”awam” yang tidak mafhum  akan tasawuf, tak jarang pula ia dinobatkan sebagai penyusup dimensi lain pembawa misi penggulingan mercusuar bumi. Pernyaataan tersebut nyata senyata-nyatanya tuduhan konyol! Kefatalan cara pandang keawaman menunjukkan betapa ibanya orang-orang tersebut,  mengkungkum akal dan hatinya seperti katak di dalam tempurung.

“MEMALUKAN, TERAMAT SANGAT MEMUAKAN”

* * *

Tujuh menit berlalu, satu jam telah usai. Angin malam kian menipis menghampar haluan tak berdestinasi menyebrangi lorong rintik hujan. Disini, dari sofa tua berjarak langkah hitungan enam telapak kaki aku menyaksikan bola-bola matanya berkeliyaran menembus setiap makna di satu kata, setiap kata di satu kalimat, setiap kalimat di satu paragraf, setiap paragraf di satu buku “GOD Without Religion – Sankara Saranaman. Pendiri Pranayama Institute dan biarawan kepala dari Ordo nazir.” yang seolah membuat batang tubuhnya mendedahkan dampung sejarah terciptanya langit dan bumi.

Tapi tidak puas jika hanya sampai di Ordo nazir. Ia membentangkan kedua sayapnya melayang-layang menuju jerambah tempat para filosof mendobrak zaman kejahiliahan. Perpustakaan pribadi dengan jendela sosial politik, sejarah, religi, ekonomi, politik, sains, sastra, serta beberapa novel dan buku-buku puisi buah karya penulis-penulis jempolan, dahsyat, hormat, memikat, spektakuler, menyulap seluruh lapisan rak-rak buku menjadi ladang bibliotek teramat sangat mengairahkan. Katakanlah; Beyond Good And Evil – Nietzsche, Filsafat Sejarah – G.W.F Hegel, Philosopy In A Time Of Teror – Giovanna Borradori,  Keadilan Illahi – Murtadha Muthahhari, Sejarah Tuhan – Karen Amstrong, The Blind owl – Sadeq Hedayat, The Mafia’s Greates Hits – David H. Jacob, The Elixir of Love – Mohammadi Reyshahri, History of The Arabs – Philip K. Hitti, The Lost Gospel – Herbert Krosney, Pemikiran Politik Islam – Antony Black, Para Pembunuh Tuhan – A Setyo Wibowo, Lari Dari Kebebasan – Erich Fromm, Teori Relatifitas – Albert Enstein, Rekayasa Sosial – Jalaludin Rachmat, Sosiologi Islam – Ali Syairati, Insan Illahiyah – Imam Khomeini, Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia – Harry A. Poeze, Wawasan Al-qur’an – Dr.M.Quraish Shihab, M.A, The Venture of Islam – Marshal G.S Hodgson, Misquoting Jesus – Bart D. Ehrman, Dwilogi Saman-Larung – Ayu Utami, Nyanyian Sepi – Arifin C.Noor, The Bilderberg Group – Daniel Estulin, Indonesia Dikhianati – Elizabeth Fuller Collins, Open Society Reforming Global Capitalism – George Soros, La Volonte de Savoir Historie de la Sexualite: Ingin Tahu Sejarah Seksualitas – Michel Foucault, dan beberapa jenis buku-buku lainya yang sudah mendarah daging menyempurnakan hakikat kehidupan sebenarnya.

* * *

Dua belas detik berlalu, lima puluh lima menit hampir usai. Tapi lelaki si pemilik tiga belas segi itu belum beranjak dari ruang multidimensi. Dia masih terlihat begitu antusias menyambut tangan-tangan berparade, melalang buana ayeng-ayengan menembus kelik sang penetrasi mendobrak zaman kegelapan, berkontribusi dalam konfrontasi pembebasan ideologi dan integritas manusia.

Aku, sedari dua setengah jam lalu masih termenung keheranan “Bagaimana bisa lelaki  tiga belas segi melahap dua buku sekaligus dalam sangkala semalam, padahal jika di globalkan kedua buku itu memiliki sekitar 600 halaman?”

Apa yang tidak mungkin bagi matahari dari segala matahari yang tak pernah  ayun-temayun. Ia merupakan;

lorong sempit tempat bintang-bintang bersinar

suatu ketika dia datang dengan gumpalan utuh

saat busa-busa sabun masih menempel di dinding-dinding kamar mandi

saat kelaparan sejenak di setiap satu bulan

Dia lah suamiku…

termenung di bawah alam yang tak mampu kukenali,

jangankan ku tumpangi, memikirkannya pun sungguh di luar kemampuanku,

kegigihan, ketekunan, semangat, kesempurnaan, tidak ada ketidakpastian, dia lah suamiku.

Maskumambang bait kertas yang ku bawa tidur

merasuk melalui pori-pori,

untuk kemudian menjelajahi pulau-pulau yang kami ciptakan sendiri

keberadaan utuh tumpuanku menumpah

segala sifat, ucapan, keterpurukan

membuatnya kian nampak seolah dia lah matahari

matahariku… matahari dunia, matahari manusia

matahari dari segala matahari yang pernah ku tunggangi

ketika usiaku masih belum terbaca

Dia lah suamiku…

sosok peraduan bagi nyala-nyala lilin,

ketika padam melumpuhkan sebagian kehidupan bumi

maka ia akan datang…

Dialah suamiku!

Maskumambang kehidupanku!

Meski terkadang panca indraku kerap dikecoh judul buku-buku koleksinya, bahkan tak jarang pula kecurigaan mengonggok raut wajahku seperti oknum demokratisasi unik bekerja sampingan sebagai pengaba-aba wagon di taman pemakaman selatan apotek menghadap lempeng kantor polisi. Setiap menjelang libido hari konon tempat pemakaman beralih fungsi menjadi rumah bordil prospektif, prospek, prospektus, dan prostitusi prima, yang juga merupakan café tawa segmental kaum abnormal kerap melucur kontradiktif mengimplikasikan kemarahan semenjak pergulatan pseudo: antar dua kepribadian di sebuah kodi berlantai pukul 00;00 tengah malam.

Ya, kodi elit berpangkat “kumpulan pemuda berpengalaman” yang pernah kulihat gigi taringnya dengan corak sawo matang, bingkai kaca mata hitam, soda gembira, pertarungan, telur-telur puyuh bergelimpangan in the table spry, knalpot sepeda motor, manusia kedua setelah manusia, kipas angin lumutan, polisi laut, curi-curipan, kepala micky mouse, blackberry touchcrean, ….. Mmm, mungkin sebaiknya tidak ku pergamblang untuk poin yang satu ini.

Kita kembali ke posisi yang terhipnoisis sejenak. Kepiawaian si pemilik tiga belas segi tidak lagi perlu di risaukan nilai plusnya. Setanding dengan prinsipnya  bahwa “MENULIS MERUPAKAN BUAH KARYA DARI MEMBACA.” yang selalu, selalu dan selalu ia rekomendasikan di manapun, kapanpun, kepada seiapapun, sehingga memunculkan sugesti ganas membludak-bludak menumbangkan kebodohanisasian mumpuni.

Sampai suatu ketika entah di tanggal menit bulan jam berapa. Kebodohanku kian tersugesti tatkala dahiku tiba-tiba di lipat oleh satu buku genre filsafat tanpa sengaja  aku temukan di ujung batas antar rak buku. Lebat halaman 321 berbalut gaun hitam, putih, dan maroon memudar, seolah mengingatkanku untuk segera merubah ritme saluran nafas ke dalam skema yang lebih lembut, supaya benturan satelit jenis PSXX code 780003982 malam ini berkenan memperlambat spektakel suara agar sedikit terdengar lebih smotty.

Buku yang di anggap karya paling provokatif itu memang telah sukses membiusku dengan pandangan lain, padahal, harus aku akui sampai detik ini aku belum berani membacanya, pun belum berani untuk munculkan pelbagai macam pertanyaan sebagaimana kerap aku lakukan ketika sedang dilanda ketakutan.

Tapi toh jika seandainya itu terlaksana, mungkin lantas belum akan melepaskan belenggu kepecundanganku karena menurutku ini seperti petala atmosfer panas di sebuah ceruk yang akan melahirkan kontroversial berkepanjangan, seperti kiasan dalam bentuk penyampian suatu konflik personality kepada pencarian jati diri, keabadian, kepuasan, kedekatan manusia dengan Tuhan, atau mungkin,,,,, Fyuughh, entahlah. Aku mengangkat kedua tanganku untuk perihal yang satu ini.

Perdebatan sengit antar diri sendiri pun dimulai. Jiwaku saling berunding; Apakah harus membuka lalu melahapnya, atau hanya memangkunya lalu segera meletakanya, atau selamanya dibuat tratapan  lalu rasa keingintahuan kian memuncak?

OH…

BERTUHAN

TANPA

AGAMA

?

Si buku debar pesona itu memiliki nama “Russell on Religion: Bertuhan Tanpa Agama – Bertrand Russell. 321 hal.”

Aku pun di buatnya bertanya-tanya; Seperti apa rasanya menjadi bagan konsorsium  BERTUHAN TANPA AGAMA (Agnostik)? ***

 

Penulis: Nazilla Rachim, lahir pada sabtu 09 Nopember 1991. Kutipan favoritnya adalah “Kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.” (FRIEDRICH NIETZSCHE) dan “Musik adalah bahasa Tuhan.” (I GUSTI WAYAN SADRA)

You May Also Like