Lapak Remang-remang

Brombil.com – Pasar, entah kenapa selalu merasa canggung jika bersinggungan dengan tempat itu akhir-akhir ini, baik secara lahir atau batin, berkaitan dengan fisik maupun sekedar dalam selasar pemikiran.

Jelas hal tersebut bukan karena pasar dalam anggapan masyarakat umum adalah seruas lahan becek ketika musim penghujan dan berdebu saat musim kemarau yang jadi tempat para pembeli berdesakan mencari kebutuhan. Tidak pula karena menjadi tempat para pedagang berteriak-teriak menawarkan barang hingga urat leher tampak bagai tali jemuran. Keduanyatentubukan alasan tepat bersikap canggung memasuki pasar.

Lagipula sudah lama di negeri ini ada alternatif lain bernama pasar modern. Tahun 80-an saya pertama kali mengenal tempatdemikian dengan nama “Pahlawan.” Waktu itu agak sulit juga bagi seorang bocah macam saya untuk menelusuri kekerabatan antara pahlawan dan toko serba ada.

Di sana ibu-ibu tak akan punya keleluasaan bersitegang dengan pedagang dalam menyepakati harga satu barang. Para penjual telah merasa yakin jika pengunjung pasti membeli produk mereka jika menganggap perlu tanpa mempersoalkan harga. Begitu juga para pembeli. Mereka percaya bila semua harga yang tertera adalah pantas walau kadang lebih mahal dari warung tetangga.

Meski sebetulnya warung-warung tersebut sering merupakan ujung tombak perekonomian keluarga untuk bertahan hidup. Kelompok itu mencoba berdiri tegak di sela himpitan toko-toko besar dan mini market yang kini menggurita hingga ke pelosok. Mereka, bersama pengusaha kecil lain termasuk para pedagang kakilima, adalah para pejuang yang meski terbawa limbung namun tetap bertahan melumasi roda perekonomian negara, menghadang badai krisis moneter beberapa waktu lalu.

Di pasar moderen itu lantainya terlihat selalu mengkilap karena dipel sekian kali oleh armada cleaning service. Anak-anak bila kebetulan diajak berbelanja ibunya tak harus jalan berjinjit seraya menaikan ujung bawah celana panjang di antara lorong-lorong pasar tradisional yang memang kerap berkesan jorok. Di sana berbelanja bahkan disebutkan mampu menjadi hiburan seluruh anggota keluarga. Itulah sebabnya kini marak diserukan pada iklan spanduk di jalan-jalan, di iklan sehalaman penuh koran: “Ayo Nikmatilah Wisata Belanja di Tempat Kami.”

Tentu saja jargon tersebut memiliki daya tarik magnet lumayan kuat. Isinya ringkas serta tepat sasaran. Bangsa ini, semenjak tata nilai di nyaris segala aspek makin berantakan memang seperti teramat haus hiburan. Apapun yang berkonotasi wisata niscaya memiliki nilai jual tinggi. Wisata religi, wisata pendidikan, atau macam yang dilakukan para anggota parlemen;wisata kunjungan kerja. Boleh jadi itu karena hiburan, pada masapenuh ketidaktentuan seperti sekarang, dianggap sebentuk tips menjaga kewarasan. Upaya merawat harmonisasi setiap pribadi.

Pasar, selain kini diarahkan menjadi tempat hiburan, juga telah sejak lampau dipercaya sebagai jalan lapang mengentaskan kemiskinan. Tempat banyak peluang terkait uang bertebaran. Paling tidak seorang Abdurrahman bin Auf meyakini hal tersebut saat ia menolak diberikan hadiah harta benda karena baru “terusir” dari kampung halamannya, Mekah. Kalimatnya masih diingat banyak orang hingga sekarang. “Beri tahu saya jalan menuju pasar,” ujarnya seraya menolak halus hadiah.

Seorang paman pernah pula mengatakan keyakinan semacam itu. Ia transmigran dari Jawa Timur sejak akhir 70-an. Datang ke ujung selatan Pulau Sumatera lalu menikahi bibik saya. Awalnya mereka menggarap lahan luas yang disediakan pemerintah untuk setiap kepala keluarga. Jika tak salah, dalam pelajaran di sekolah lanjutan pertama dahulu disebutkan setiap kepala keluarga diberi tanah seluas dua hektar. Setelah sekian tahun berlaludi lokasi transmigrasiia membagi pekerjaannya dengan membuka kios peralatan pertanian dan pertukangan. Cangkul, sabit, garpu tanah, pupuk, dan lain sebaginya.Istrinya membuka kios peralatan rumah tangga lengkap hingga peralatan elektronik. Anak-anaknya membuka kios dengan beragam dagangan. Ada sembako, kemasan plastik aneka macam, rumah makan dan banyak lagi lainnya.

Usaha mereka maju pesat. “Pasar adalah tempat uang berkumpul dan bercengkrama” katanya dalam obrolan ringan sore hari ketika tahun 2000-an saya mampir ke sana. Mengingatkanpada ide Aristoteles mengenai uang, benda yang dianggapnya sekedar alat tukar terkait barang, tak lebih. Filsuf ini memang menolak keras cara mengumpulkan kekayaan dengan cara meminjamkan uang seraya memungut bunga (riba) karena akan mengakibatkan uang jadi mandul serta tak produktif.

Tulisan ringkas ini tidaklah bermaksud menggali teori-teori menyangkut pasar dari sudut para pemikir terkenal baik klasik atau moderen, individualis atau sosialis, kiri maupun kanan. Ada banyak ahli yang lebih kompeten menjelaskan. Terlepas dari dia seorang penganut kubu kesejahteraan individu macam Adam Smith maupun pengikut kemakmuran sosial seperti Robert Owen, Charles Fourier, Karl Mark dan para kolega. Catatan ini akan lebih entengdan menjaga jarak dari segala rupa keruwetan jika disebut sebagai satu sudut pandang konsumen saja.

Yaitu tentang pasar di hari-hari sekarang yang berpotensi menjadi lahan penuh distorsi. Terutama jika ia, sebagaimana telah disebutkan, bersekongkol dengan iklan terlalu menakjubkan. Menjadi ruang bebas bagi segala produk yang konon telah melewati serangkaian ujian dari institusi-institusi formal(atau dianggap formal), juga komunitas-komunitas elit tertentu, dengan hasil akhir pemberian ijazah, cap, sertifikat, serta apapun namanya. Sehingga seusai penempelan cap maka satu produk dapat bebas “mejeng,” memamerkan diri di depan publik. Menunggu untuk dicomot lalu dibeli oleh konsumen.

Dan ketika produk-produk tersebut (meliputi barang atau jasa) bertolak belakang dengan membahananya iklan, tak ada yang dapat diminta pertanggungjawaban. Atau jika dapat dilakukan upaya pembelaan, prosesnya mesti akan teramat panjang dan berbelit hingga akhirnya malah mematikan semangat si korban.

Bayangkan saja misalnya, satu buku penuh endorsement dari sekian nama yang dipandang ahli mengenai isi buku tersebut, selanjutnya diresensi di media massa. Dan tujuan semua itu bukan karena isinya memang perlu dibaca oleh khalayak. Namun lebih kepada strategi mendongkrak penjualan berdasar simbiosis mutualisma semata. Menggunakan jaringan kedekatan-kedekatan personal. Para pembeli lalu tergoda menenteng buku tersebut ke kasir, membayar harga, dan membaca di rumah diakhiri perasaan dongkol luar biasa. Isi buku ternyata jauh dari gemerlap iklannya.

Kita paham bahwa dalam kompetisi selalu ada serangkaian pakem tersendiri. Bahwa brand image adalah taruhan besar hidup-matinya satu perusahaan. Namun alangkah lebih baik serta akan meminimalisir korban jika para penjual, perusahaan barang dan jasa, tak terlalu bombastis –meski perusahaan begitu biasanya akan lumat oleh gesekan kompetisi–dalam beriklan hingga melenakan calon konsumen. Dan para pembeli tidak latah memprioritaskan alasan membeli produk karena merk saja. Sebab sebagaimana nama besar, ia dapat saja menipu tapi tindakannya pasti tak akan mudah berdusta. Iklan pun mungkin saja berbohong, namun kualitasnya tentu tidak.

Penulis: Trudonahu Ar Raffles

 

Baca cerpen:

S.A.U.N.G

Gagang Pintu

Senja Sehabis Hujan

Selasih

You May Also Like