Kisah Para Jurnalis Berdedikasi Tinggi

(Sumber foto: goodreads.com)

Judul Buku: Jurnalis Berkisah

Penulis: Yus Arianto

Penerbit: Metagraf

Cetakan: 2102

ISBN: 978-602-9211-31-0

 

Brombil.com – Pada dasarnya menjadi jurnalis tidak cukup hanya bermodal pandai memulis dan lihai merilis berita. Lebih jauh, menjadi Jurnalis harus memiliki keberanian menyajikan kebenaran, moral, dan suara nurani dunia. Bukan saja mencatat tiap helai sejarah, namun harus menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Dalam buku Jurnalis Berkisah ini mengisahkan leliku, luka, dan airmata para jurnalis besar Indonesia selama melakoni profesi mulya tersebut. Mereka rata-rata sudah memiliki jam terbang di atas sepuluh tahun.

Di antaranya Najwa Shihab. Namanya lesat saat menjadi host Mata Najwa, di Metro TV. Yang menarik dari acara ini adalah kehadiran Catatan Najwa di akhir acara. Ini merupakan perspektif Najwa selaku program owner. “Ini semacam editor kecil. Terkadang, saya yang menulis atau produser. Tapi, sentuhan akhir di tangan saya,” terangnya. (hal.4).

Di bawah asuhannya, pada 2010 Mata Najwa sudah mendapat KPI Award untuk episode Separuh Jiwaku Pergi yang tayang 30 Juni 2010. Dan pada penghujung 2011, giliran Najwa mendapat penghargaan dari Asian Television Awards sebagai pemenang kedua untuk katagori Best Current Affair Presenter dalam program Mata Najwa.

Karier Najwa dimulai saat menjadi reporter magang di RCTI. Selesai magang ia kembali ke kampus. Selesai dengan skripsi, ia melamar ke Metro dan RCTI. Semua diterima tapi dia memilih ke Metro. Memilih menjadi jurnalis. Selaku jurnalis, liputannya yang terbilang fenomenal adalah saat ia berhasil meliput secara live situasi pasca gempa dan tsunami di Aceh. Ia berangkat ke sana bersama rombongan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, sehari setelah gempa terjadi. Tak urung laporan yang terbilang keras, emosional, dan acap kali disertai tangisan ini menyentil kinerja Alwi Sihab, selaku Menko Kesra. Liputan ini pun dapat anugerah berupa PWI Jaya Award.

Kehidupan Najwa tak sepi prestasi, diantaranya terpilih sebagai Jurnalis Terbaik Metro TV, terpilih mengikuti Senior Journalist Seminar di sejumlah kota di AS, menjadi pembicara pada konvensi Asian American Journalist Associatoin, dll. (hal.22).

Jurnalis lainnya adalah Telni Rusmitantri. Jurnalis tabloid Cek&Ricek yang memiliki passion kuat di genre hiburan ini menampik kalau jurnalis infotaiment tukang gosip. Tulisan berjudul Babak Baru Bambang-Mayang adalah buktinya. Lewat tulisan itu dia mendapat Anugerah Adinegoro 2010 dengan menyisihkan 80 pesaing. (hal.28)

Meski sejak 2011 menjadi Redaktur Pelaksana, namun ia tetap rutin menulis untuk rublik Di Balik Layar. Seorang wartawan harus tetap melakukan liputan dan menulis. Tidak ada urusan soal jabatan. Ini soal passion, tegasnya.(hal.36).

Kegigihan personal ditunjang kredibilitas lembaga semacam itu yang membuat beberapa kali Telni unggul dalam liputan. Misalnya, ia adalah jurnalis yang pertama kali mewawancarai Tengku Fakhry istri Manohara via telpon. (hal.43).

Lain lagi dengan Maria Hartaningsih. Penerima anugerah Yap Thiam Hien Award ini skeptis pada kekuasaan. Dengan posisi non struktural, dia ingin memberi contoh pada teman-teman yang lebih muda, tanpa posisi stuktural, kita tetap bisa menjadi sesuatu. Anugerah ini diterima pada 2003 dan sampai 2011 belum ada yang menerima lagi.(hal-71-74).

Salah satu perjalanannya yang paling mengesankan adalah kehadiranya di lingkungan Ibu Teresa, rokhaniawan yang melindungi kaum papa di India. Dua puluh tahun kemudian, Maria pun masih tetap mengembara dan bertemu dengan banyak sosok inspiratif lain. Di NTT, misalnya ia ketemu dengan Gabriele Uran, ketua Yakines, sebuah yayasan yang bergerak untuk pemberdayaan petani miskin, khususnya perempuan. (hal.76).

Awal di KOMPAS, karya jurnalisnya mengenai kaum miskin kota dan tunawisma menyabet juara pertama Habitat Internatioal.(hal.82). Pada 2014, jurnalis yang tetap lajang ini akan segera pensiun dari KOMPAS.

Selain mereka masih ada kisah menarik dari Metta Dharmasaputra, Tosca Santoso, Mukhlis Suhaeri, dll.

Membaca kiprah mereka kita jadi sadar betapa untuk menegakan kebenaran bukan saja menuntut pengorbanan harta, luka, namun nyawa pun harus siap dipertaruhkan. ***

Peresensi: Moh. Romadlon. Lahir di Kebumen, 12 Agustus 1977. Cerpen-cerpennya dan resensinya telah dimuat di berbagai media.

You May Also Like