Ibu di Mata Koes Plus

Brombil.com – Manusia memanggil ibunya dengan bebagai macam. Dalam bahasa kita saja ada emak, ibu, simbok, biyung, mama dan setiap suku mempunyai sebutan untuk memanggil ibu mereka. Manusia juga mempunyai banyak cara untuk mengungkapkan perasaan dan imajinasinya. Beberapa di antara mereka memilih mengekspresikan perasaannya melalui lukisan, kata kata, tulisan, bahkan hingga aksi demonstrasi. Bagi Tonny Koeswoyo dan saudara-saudaranya di Koes Bersaudara, segenap perasaan batin, pengalaman hidup dan imajinasi sosok ibu, mereka ramu menjadi sebuah lagu. Lagu tentang ibu juga mereka ciptakan di era Koes Plus.

Dari sekian lagu yang diciptakan Koes Bersaudara dan Koes Plus, tiga di antaranya merupakan pandangan terhadap seorang ibu. Tonny Koeswoyo menciptakan lagu Doa Ibu pada tahun 1962 dalam album “Angin Laut” Koes Bersaudara. Orang yang sama menggubah lagu Ibu dan Lagunya di tahun 1972 untuk album Koes Plus Pop Indonesia volume 6. Dua tahun kemudian Yok Koeswoyo memperkaya Album Koes Plus Anak-anak volume 2 dengan “Nasehat Ibu”.

Sementara lagu untuk kedua orang tua, para penggemar Koes Plus dapat menikmati lagu Untuk Ayah dan Ibu yang diciptakan Tonny untuk album “Jadikan Aku Dombamu” pada tahun 1965. Baris ketiga dalam lagu Di Dalam Bui (Koes Bersaudara, To The Called So Guilties 1967) ada ibu dan ayah (Waktu ku di dalam bui, ku bersedih dan bernyanyi di malam sunyi, Ibu dan ayah menanti berdoa setiap hari, aku kembali). Murry turut menyumbang syair untuk volume 10, lagunya berjudul Ayah dan Ibu. Sedangkan Syair lagu berjudul “Ayah” hanya terdapat pada album”Selalu di hatiku” tahun 1976 saja.

Khusus untuk “Doa Ibu” dan “Ibu dan Lagunya”, tampak sekali di sana sebuah syair yang menggambarkan citra diri dan kasih sayang sosok ibu. Sang anak berusaha membalas kasih sayang ibu dengan “hanya” sebuah lagu. Ini merupakan makna kata ibu dalam konvensi sastra. Sehingga Tonny Koeswoyo merindukan curahan kasih sayang ibu yang dia gambarkan pada lagu Doa Ibu dengan syair, “meski umurmu lanjut kini, doa ibu tetap ku nanti, dan nyala cintamu sampai di akhir nanti, dengarkanlah ibu laguku untukmu, sekedar baktiku untuk ibu”.

Senada dengan kasih sayang ibu, bait syair lagu Ibu dan Lagunya seolah memperkuat lagu doa ibu. Liriknya berbunyi, “Ibuku sayang, Ku ingin dengar kembali, Lagu yang ibu sayangi, Ibuku sayang, Lama engkau telah pergi, Kau tinggalkan kenangan ini, Lagu yang ibu sayangi”. Tampak jelas rasa kerinduan yang memuncak namun hanya dapat bertemu dengan lagu ibunya.

Kata “ibu” dalam sebuah lirik lagu menurut konvensi bahasa berarti orang yang melahirkan kita. Dalam pandangan konvensi sastra, kata itu bermakna banyak dan menyebar. Ibu bisa jadi setiap orang yang mencintai kita karena dia adalah orang yang melahirkan kita. Orang yang melahirkan kita berarti “orang yang mempertaruhkan jiwanya untuk kita”, dan “orang yang mempertaruhkan jiwanya untuk kita” berarti “orang yang mencintai kita” (F.X. Nugroho HP, 2010: 5).

Lirik lagu ibu pada dua judul lagu di atas apabila dilihat dari sisi estetis merupakan sebuah syair. Ingat, lirik lagu adalah puisi, dan puisi merupakan salah satu genre dalam karya sastra. Lirik lagu selalu mengacu kepada konvensi bahasa dan konvensi sastra (Sumarni, 2001: 62). Penggambaran metaforis sosok ibu dengan berbagai sifatnya seperti memberi nasehat, tersenyum, medoakan anak, sampai memegang gitar tentu tidak bisa lepas dari latar belakang pengarang. Mantan Menteri Sekretaris Negara Era Orde baru, Moerdiono, sebagaimana dikutip oleh WS Rendra (2001: 15) menyatakan bahwa setiap penyair mewakili suara batin manusia.

Kabarnya, para personel Koes Bersaudara dilarang bermain musik oleh ayah mereka dengan alasan bahwa pemusik tidak mempunyai masa depan yang jelas. Atmini, ibu personel Koes Bersaudara memberikan pembelaan terhadap usaha dan cita-cita anaknya. Di sini ibu berposisi sebagai motivator dan pelindung.

Syair dalam lagu “Doa Ibu” dan “Ibu dan Lagunya” merupakan hasil proses kreatif Tonny Koeswoyo sebagai pencipta. Kedua lagu itu memerlukan perenungan, pengendapan ide, pematangan, dan langkah-langkah tertentu yang akan membedakan penyair dengan pemusik. Syair biasa lebih mudah untuk dideklamasikan, sedangkan untuk menyanyikannya menjadi sebuah lagu tentu harus ada kesesuaian dengan aransemen musiknya. Kesamaannya adalah, baik syair lagu ataupun puisi membutuhkan bakat, intelektualitas, wawasan kesastraan, sikap terbuka, jujur, dan syarat lainnya (Wahyudi Siswanto, 2008: 74).

Unsur musik dan unsur bahasa dapat dikaitkan sebagai sarana pengembangan psikis dan pembentukan karakter manusia. Musik tercipta dari bunyi-bunyi yang sengaja dihadirkan untuk mencapai suatu efek harmoni (Dami N Toda, 2005: 15). Tampaknya Tonny Koeswoyo menyadari bahwa karakter ibu yang baik dapat diajarkan berdasarkan lingkungan lewat lagu. Dengan kata lain, emosi yang terdapat didalam diri ibu dapat mempengaruhi pikiran manusia. Pikiran itulah yang nantinya akan membentuk sebuah karakter di dalam diri seorang anak.

Penulis: Ajib Purnawan

ibu

You May Also Like