Cinta dalam Bus Esto

(Sumber gambar: wikimedia.org)

Brombil.com – Pemandangan Rawa pening mulai terlihat dari jendela kaca yang kusam dengan carut marut cuaca. Gugusan air yang ditutupi enceng gondok sangat terlihat jelas warnanya. Sebentar lagi akan melewati jembatan kali Tuntang. Dari atas situlah akan lebih jelas pemandangan Rawa pening yang penuh dengan enceng gondok dan perahu-perahu yang bersandar di tepi. Di sebalah kiri akan terlihat orang hilir mudik membawa keranjang yang berisi kompos, yang dihasilkan dari pembusukan enceng gondok. Penggalian yang tak henti-henti, karena selain menjadi penghancur ekosistem di Rawa, enceng gondok bisa dijadikan pupuk kompos. Namun kegunaan lebih sedikit dari pada kerugian yang tercipta. Sudah diperkirakan sepuluh tahun lagi Rawa pening akan hilang di makan enceng gondok yang mengendap di dasar Rawa.

Suara mesin yang gemeratak sudah bersahabat dengan kedua telingaku sejak tadi. Apalagi setelah melewati jembatan Tuntang, jalan mulai naik. Sehingga suara mesin menderu lebih kencang, lebih menyiksa kedua telinga. Berkali-kali asap hitam yang menggumpal keluar dari pantat bus yang Aku tumpangi. Dengan keadaan yang penuh kegaduhan. Pemandangan yang meyejukkan mata mulai memenuhi kedua bola mataku. Setelah Rawa pening sebagai santapan mata pertama, kini beratus-ratus pohon kopi tertancap di punggung-punggung bukit. Bunga bermekaran di antara dahan-dahan. Putih-putih bagai melati berbaur dengan daun hijau yang menghasilkan kesejukan. Bau harum mulai tercium. Bahkan bau bunga kopi langsung mengusir jauh-jauh bau asap hitam dari lubang pantat bus. Masuk surga dalam kebisingan yang beradu dengan ketenangan rasa.

Dulu tahun 1920. Perkebunan kopi yang terletak di Asinan dan Banaran adalah milik perkebunan Afdeeling Salatiga. Namun setelah prasasti plumpungan ditemukan kecamatan Salatiga menjadi kota Salatiga. Bukan lagi kecamatan.

Berjejer-jejer kursi penumpang, banyak yang sudah mengelupas pembungkusnya. Bahkan sudah ada yang tinggal kerangkanya saja, tanpa adanya busa. Bus melaju sangat pelan-pelan. Padahal penumpang yang berada dalam bus tidak terlalu padat. Di tengah-tengah kebun kopi, jalan mulai menanjak. Sehingga bus harus mengeluarkan tenaga lebih. Karena tranportasi langka ini bermesin tua.

Besi dalam pijakan kakiku adalah bagian dari peninggalan sejarah kota Salatiga. Sebuah nama yang terpajang di badan bus ketika Aku mau naik ke dalam bus. Tulisan itu sudah mau mengelupas, tapi masih sangat terlihat jelas. ESTO yang merupakan singkatan dari Eerste Salatigashe Transport Onderneeming. Walaupun hanya sebuah nama, tetap dijaga kelestariannya.

Perjalanan ke Ambarawa dari Salatiga menempuh waktu satu setengah jam perjalanan. Aku memilih diam menikmati perjalanan yang melaju dengan sabar. Karena dari jendela yang kusam, indera penglihatanku disuguhi beberapa pemandangan yang bersejarah dan melegenda.

Salah satunya adalah Rawa Pening yang mempunyai cerita legenda tersendiri. Dari tokoh yang bernama Baru Klinting seorang anak jelmaan dari ular yang sedang bertapa mengelilingi sebuah gunung. Serta seorang Mbok Rondo yang baik hati. Ia selamat dari banjir bandang yang disebabkan pancuran air yang keluar dari bekas lubang lidi yang ditancapkan Baru Klinting. Mbok rondo selamat dengan menaiki lesung padi dan mendayung menggunakan centong. Cerita ini, mengingatkanku ketika masih duduk di bangku SD.

“Hai jangan melamun terus Wan”. Tegur wanita yang ada di sampingku yang bernama Lily. Langsung Aku melihat ekpresi wajahnya yang mulai berubah warna.

“Aku mual nih, rasanya mau muntah. Kamu bawa plastik gak?” lanjutnya.

“Aku gak bawa plastik. Biasanya di bus sudah disediakan plastik”. Ku tarik bola mataku ke kanan ke kiri. Akirnya.

“Sebentar Aku ambilkan plastik dulu. Ditahan sebentar.” Ucapku.

“iya.”

Aku mulai berdiri, kemudian menuju tempat plastik yang dikaitkan di dekat pintu depan. Aku harus ke depan, karena posisiku sekarang berada di belakang. Berjalan sambil berpegangan besi panjang yang terbentang di atas. Tak terasa tanganku berubah warna kecoklatan dan berbau besi tajam. tangan tetap dalam posisi memegang besi. Agar badan ini tidak terjatuh. Laju bus yang sabar namun menyisakan goyangan-goyangan tiap roda berputar.

Isi perut mulai menguras tenaganya. Warna hijua mulai pudar di sekitar wajahnya. Matanya memerah, tersayat debu yang berterbangan. Hinggap, menanam biji kepedihan. Penyakit datang bila tak lekas dibasuh dengan air wudlu. Ia menenangkan pikirannya. Ia tidak berani menghadap ke arah jendela. Wajahnya masih mengisyaratkan akan lunturnya sebuah semangat. Aku masih takluk dengan warna-warni lukisan yang ku lihat dari jendela kusam. Lukisan yang sudah lama tak Aku lihat lewat kaca berdebu tebal.

Wajah cantiknya terenggut dengan mual yang menyerbu kian seru. Lama-lama Aku tak tega membiarkan pikirannya terkontemplasi dengan suara keras mesin tua.

“Sebentar lagi kita akan sampai ke Palagan. Senyum dong Lily?” dia langsung mengembangkan senyum yang paling manis di antara yang paling manis. Ia sedikit tersenyum, wajahnya agak cerah. Sambil mangguk-mangguk mengisyaratkan kata.

“Iya”.

“Nah gitu dong tambah manis dan pucatnya langsung menghindar dari wajahmu. Tadi sudah sarapan kan?” Tanyaku lembut.

“Sudah.” Senyum menyusul setelah kata “sudah” terucap dengan lembut.

“Nah itu, Tank kecil yang dibuat sebagai monument sudah terlihat jelas. Ayo siap-siap turun.”

Anggukan perlahan. Memulai untuk berdiri dan menuju ke pintu. Kakiku sudah menginjak daerah kota sejarah. Namanya Ambarawa. Di sini terdapat Museum perjuangan, dari Pesawat, Truk, lokomotif kereta api uap dan Tank, Senjata tempur, dari yang kecil sampai yang besar. Tempat ini adalah bukti sejarah perjuangan orang-orang Ambarawa dan sekitarnya. Namanya museum Palagan.

Dengan biaya tiga ribu per orang bisa masuk sebuah museum bersejarah di kota ini. Dari urutan pertma bisa melihat senjata-senjata yang ada di dalam ruangan kecil. Di situ ada jenis-jenis senjata laras panjang dan pendek, tombak, granat, dll. Keluar dari rungan menuju rute selanjutnya, akan melihat lokomotif dan satu gerbong kereta api, di sampingnya ada mobil truk tentara yang sudah mulai reyot bentuknya. Di sebelahnya ada meriam dan tang besar, yang terakir pesawat tempur yang berukuran kecil. Semua ini saksi biksu perjuangan para pembela Negara. Darah dan nyawa menjadi taruhan untuk mempertahankan Negara ini.

“Kita istirahat di sini dulu.” Kataku, sambil menyandarkan bahu di kursi besi yang sudah mulai reot.

“Lihat, di balik Truk tua itu. Ada empat kaki.”

“Dua kakinya cowok dua lagi kakinya cewek.”

“Kok saling menempel ya?” Tanya Lily dengan lugu.

“Hus, jangan dilihat ntar imajinasimu tidak karuan hasilnya.”

“Habis ini, kita mau ke mana lagi?”

“Ke Museum kereta api.”

“Jauh dari di sini?”

“Dekat kok.”

“Kenapa tadi kita tidak memakai sepeda motor saja. Aku tidak terbiasa naik bus. Apalagi bus tadi langsung membuat Aku mual.”

“Aku inginnya itu naik bus itu biar bisa merasakan perjalanan ini penuh sejarah. Sambil nostalgia, karena waktu kecil Aku sering diajak bermain-main di daerah Ambarawa bersama Ayahku. Sudahlah jangan ngambek, ntar tambah pucat wajahmu. Senyum dong?”

Setelah berputar-putar mengelilingi Palagan yang diakhiri dengan senyuman dari Lily. Berjalan menujum selatan. Di sana ada sebuah stasiun tua. Sudah tidak aktif lagi seperti stasiun-stasiun yang lainnya. Di dalamnya terdapat lokomotif-lokomotif tua. Sekitar 1902-an, Aku melihatnya di papan yang tertancap di depan lokomotif.

Saat ini sedang dipugar. Pembenahan-pembenahan mulai terlihat. Rencana panjang jalur kereta yang sudah lama sempat putus akan beroperasi lagi. Entah itu kapan akan terealisasikan.

Pada hari minggu. Jalur ini digunakan untuk para wisatawan yang ingin mencicipi naik Kereta Api uap. Sekali jalan membutuhkan biaya dua juta. Kalau dengan lokomotif mesin disel dua puluh lima ribu per orang. Jalur kereta ini sangatlah unik, karena jalur menuju Jambu adalah jalur kereta yang menggunakan gerigi. Jalur rel yang bergerigi inilah jalur yang masih aktif di Indonesia.

Di dalam museum ini. Terdapat jenis telepon tempo dulu. Alat-alat untuk mengoperasikan rel, alat telepon jaman dulu dan lokomotif tua. Ini adalah sebuah setasiun yang sangat artistik dalam segi arsiteknya. Masih megah berdiri, mengalahkan setasiun-setasiun modern yang tertancap di jalur kereta api.

“Bagaimana rasa mualmu. Sudah mendingan kan?”

“Sudah mendingan. Melihat peninggalan bersejarah ini, membuat perutku untuk terus bertahan. Ya mirip dengan dinding museum yang menahan terpaan suhu yang ganas.”

“Bisa-bisa aja kamu ini.”

“Habis ini kita naik lagi bus ESTO.”

“Kok bus ESTO terus to mas. Kan masih ada bus-bus yang lain, seperti bus Sari dan bus Murni.”

“Sama saja rasanya. Mending bus ESTO. Sekalian menikmati perjalanan sejarah.”

“Ya deh, ngikut saja.”

Berjalan menuju jalan raya yang tepatnya di depan museum Palagan. Lalu lalang kendaraan. Menunggu dan ters menunggu bus ESTO. Meskipun sedikit kumal, bus itu akan Aku jadikan sejarah dihidupku. Bus ESTO sudah di sepan mata.

bus legendaris esto

Seperti biasa keadaan belum berubah. Kursi-kursi tua menjadi landasan empuk dan keras dari penumpang.

“Dari apa yang kita lihat tadi. Aku ingin menyimpulkan sesuatu untukmu.” Ungkapmu kepada Lily.

“Sesuatu apa? Seperti Syahrini aja kamu ini.” Sambil tersenyum imut.

“Dari awal perjalanan kita sudah menikmati tranportasi yang ada nilai sejarah, kita jalan-jalan sambil menikmati peninggalan sejarah perjuangan para pahlawan. Kemudian berjalan ke selatan kita menemui lokomotif-lokomtif tua yang bersejarah. Ada satu yang belum kau ketahui nilai sejarah yang sangat Aku hargai.”

“Apa itu Her?” Tanya Lily keheranan.

“Bus ini akan Aku jadikan sejrah tersendiri bagiku dan bagimu.”

“Kok bisa. Padahal Aku sudah dibuat mual oleh Bus ini.”

“Bus yang tua ini akan menjadi saksi pernyataan cintaku padamu. Aku mencintaimu Fit. Maukah kamu menjadi sejarah dalam hidupku?” Lily tersipu mendengar ungkapan hatiku.

“Sejarah yang akan terukir di setiap perjalanan sampai ajal menjemput nanti. Bus ini adalah saksi bisu yang akan mejelma menjadi cinta yang terbawa sampai penutupan usia. Menjadikan potret abadi yang akan kita bisa kenang bila kita mengenang sejarah. Aku biarkan kamu menikmati mualnya perutmu, agar kau merasakan sejarah tersendiri dari Bus ini. Dari pengAkuan yang menyedihkan menjadi akir yang menyenangkan. I LOVE YOU ?”

Senyum dan jabawan yang tak perlu Aku uraikan di sini. Jawabannya sudah melekat di hatiku dan perjalanan pulang menjadi perjalanan sejarah tersendiri. Aku dan dia membawa pulang sejarah cinta yang terukir di dalam bus tua ini.***

Penulis: M. Maksum (Muhammad Mak Al Fine)

 

Baca juga cerpen lainnya:

Senja di Kali Wiso

Munajat

Lelaki Bermata Kabut

You May Also Like